Perut Kosong sebagai Vonis Moral Kekuasaan
Oleh: H.Syahrir Nasution S.E. M.M Gelar Sutan Kumala Bulan
Medan (Sumut)----
Negeri ini tidak kekurangan pidato. Yang langka justru rasa malu. Setiap pergantian tahun, rakyat disuguhi kalimat besar tentang harapan, pengorbanan, dan masa depan cerah. Namun ketika pidato usai dan lampu panggung padam, rakyat kembali ke kenyataan paling sederhana: perut kosong.
Kekuasaan hari ini tampak percaya bahwa kata-kata mampu menggantikan kerja nyata. Bahwa narasi kerakyatan cukup untuk menutupi kegagalan kebijakan. Padahal, kelaparan adalah fakta paling telanjang—ia tidak bisa dipoles, tidak bisa disembunyikan, dan tidak bisa dibantah dengan optimisme.
Ada yang keliru secara moral ketika rakyat yang lapar diminta bersabar, sementara mereka yang kenyang terus berbicara tentang pengorbanan.
Sabar berubah menjadi alat penjinakan. Kata itu tidak lagi bermakna etika, melainkan strategi politik: menunda keadilan sambil menjaga kekuasaan tetap nyaman.
Lebih menyedihkan lagi, ketimpangan hari ini bukan sekadar soal ekonomi, melainkan soal nurani.
Di saat sebagian rakyat masih bisa menahan lapar dengan senyum dan sopan santun, sebagian elite justru menormalisasi manipulasi dan perampasan hak. Perut kenyang melahirkan keberanian untuk menindas, sementara perut kosong dipaksa menjaga etika.
Di titik inilah perut kosong menjadi vonis moral. Ia mengadili kekuasaan tanpa palu sidang. Ia menyatakan siapa yang benar-benar berpihak dan siapa yang sekadar berbicara. Ketika kebijakan gagal menyentuh dapur rakyat, maka legitimasi kekuasaan mulai lapuk dari dalam.
Sejarah tidak pernah mencatat rezim runtuh karena kritik tajam. Ia runtuh karena kehilangan rasa malu. Ketika penguasa tidak lagi tersentuh oleh lapar rakyatnya, maka jarak antara negara dan warganya berubah menjadi kehampaan yang berbahaya.
Jika kekuasaan masih memiliki sisa nurani, hentikan pidato yang memuliakan diri sendiri. Dengarkan suara yang paling jujur di republik ini: suara perut kosong. Sebab di hadapan lapar, semua retorika kehilangan makna, dan moral kekuasaan diuji tanpa ampun.
(Jasuti)
Komentar
Posting Komentar