Narkoba Masuk Pelosok Desa: Ketika Negara dan Elit Lokal Memilih Diam
Oleh : Muhammad Sudirmin Nasution
(Jasuti)
Jeritansuarahatirakyat.blogspot.com l
Mandailing Natal ----
Masuknya narkoba hingga ke pelosok desa bukan sekadar kabar kriminal biasa. Ia adalah penanda kegagalan sistemik: lemahnya negara, rapuhnya pengawasan, dan bungkamnya para elit lokal. Desa yang selama ini dipuja sebagai benteng terakhir moral justru kini menjadi ladang empuk peredaran narkoba.
Pertanyaannya sederhana namun menusuk: di mana peran pemerintah desa, BPD, dan para tokoh masyarakat?
Di banyak desa, narkoba tidak datang diam-diam. Peredarannya diketahui, bisikannya beredar dari warung ke warung, dari anak muda ke orang tua.
Namun ironisnya, yang berkuasa di desa memilih tutup mata. Ada yang takut, ada yang merasa bukan urusannya, bahkan tidak sedikit yang memilih aman demi stabilitas jabatan dan relasi sosial.
Pemerintah desa seharusnya menjadi garda terdepan perlindungan warga. Dana desa digelontorkan miliaran rupiah setiap tahun, tetapi nyaris tak terdengar program serius pencegahan narkoba. Musyawarah desa sibuk membahas fisik dan seremonial, sementara generasi muda perlahan dirusak zat adiktif yang mematikan masa depan.
Lebih memprihatinkan, Badan Permusyawaratan Desa (BPD) yang digadang sebagai pengawas kekuasaan desa justru sering kehilangan nyali. Fungsi kontrol melemah, kritik tumpul, dan keberpihakan pada keselamatan warga kerap kalah oleh kompromi politik lokal. BPD yang diam sesungguhnya sedang mengkhianati mandat rakyat.
Para tokoh agama, adat, dan pemuda pun tak luput dari sorotan. Suara moral yang seharusnya lantang justru sering teredam oleh rasa sungkan dan ketakutan merusak harmoni. Padahal, narkoba bukan soal harmoni semu, melainkan ancaman nyata terhadap akal sehat, moral, dan masa depan desa.
Lebih jauh, fenomena ini menunjukkan negara yang absen hingga ke akar rumput. Aparat penegak hukum datang setelah korban berjatuhan, bukan saat pencegahan bisa dilakukan. Desa dibiarkan berhadapan sendiri dengan jaringan narkoba yang rapi, terorganisir, dan tak jarang dilindungi oleh kekuatan uang.
Jika kondisi ini terus dibiarkan, desa tidak sedang menuju pembangunan, melainkan menuju kehancuran generasi. Jalan dibangun, gedung didirikan, tetapi manusianya dihancurkan secara perlahan.
Sudah saatnya semua pihak berhenti bermain aman. Diam adalah bentuk keberpihakan kepada kejahatan. Netral berarti ikut melanggengkan narkoba. Pemerintah desa, BPD, dan para tokoh harus memilih: berdiri melindungi generasi, atau tercatat dalam sejarah sebagai bagian dari pembiaran.
Narkoba di desa bukan masalah esok hari. Ia adalah krisis hari ini.
(Jasuti)
Komentar
Posting Komentar