Ketika Hati Sibuk Menghitung Dunia, Tapi Lupa Menghitung Dosa
Jeritansuarahati.blogspot.com l
Medan (SUMUT) ---
Ada manusia yang begitu rajin menghitung untung dan rugi di hadapan sesama,
namun lalai menghitung berapa kali ia menunda taubat di hadapan Tuhannya.
Lidahnya fasih bicara keadilan,
tetapi hatinya diam saat kebenaran terinjak oleh kepentingan.
Tangannya sibuk mengatur dunia,
namun lupa bahwa kelak tangan itu akan dimintai pertanggungjawaban,
bukan oleh manusia, melainkan oleh Allah Yang Maha Adil.
Ada yang merasa aman karena masih diberi jabatan, harta, dan pujian,
padahal Rasulullah ﷺ telah
mengingatkan:
nikmat yang membuat lalai adalah ujian paling berbahaya.
Shalat masih dikerjakan,
namun kezaliman dianggap biasa.
Doa masih dipanjatkan,
tetapi hak orang lain tetap dirampas.
Padahal Allah tidak butuh ibadah yang hanya berdiri di sajadah,
sementara akhlak tertinggal di luar masjid.
Sungguh, Allah Maha Pengampun,
tetapi jangan lupa, Allah juga Maha Menghitung.
Taubat bukan menunggu usia renta,
karena kematian tidak pernah menunggu kita merasa siap.
Jika hari ini hati terasa terusik oleh kata-kata ini,
mungkin itu bukan sindiran,
melainkan panggilan kasih dari Allah
agar kita berhenti sejenak, menunduk,
dan berkata dengan jujur:
“Ya Allah, aku salah… aku ingin kembali.”
Sebab taubatan nasuha tidak lahir dari merasa benar,
tetapi dari keberanian mengakui dosa sebelum pintu taubat tertutup selamanya.
(Jasuti & H. Syahrir Nasution)
Komentar
Posting Komentar