Ketika Dosa Dibungkus Jabatan dan Kezaliman Dihias Dalil
Jeritansuarahatirakyat.blogspot.com l
Mandailing Natal --- (SUMUT) ---
Ada manusia yang semakin tinggi kedudukannya,
namun semakin rendah rasa takutnya kepada Allah.
Merasa aman karena dihormati manusia,
padahal lupa bahwa di hadapan Allah ia hanyalah hamba
yang kelak berdiri sendirian tanpa pengawal dan pembela.
Ayat dibaca,
namun maknanya ditinggal.
Doa dipanjatkan,
namun kezaliman tetap dijalankan.
Seolah-olah Allah hanya hadir saat dibutuhkan,
dan disingkirkan saat kepentingan berbicara.
Ada yang berani mengambil yang bukan haknya,
lalu menenangkan diri dengan kalimat,
“Semua orang juga begitu.”
Padahal dosa tidak pernah menjadi halal
hanya karena dilakukan bersama-sama.
Lebih berbahaya lagi,
ketika kesalahan dianggap strategi,
kezaliman disebut kebijakan,
dan kebenaran dipaksa diam demi kenyamanan.
Ingatlah,
Allah tidak tertipu oleh senyum, gelar, atau pencitraan.
Yang disembunyikan hari ini,
akan dibuka Allah di hari
saat mulut dikunci dan tangan dipaksa bicara.
Jangan bangga jika belum dihukum,
karena bisa jadi itu istidraj—
nikmat yang sengaja dipanjangkan
agar dosa semakin berat saat ditimbang.
Wahai hati yang masih berdenyut,
jangan tunggu azab untuk percaya,
dan jangan tunggu sakratul maut
untuk menyesal.
Taubatan nasuha bukan pilihan bagi yang sempurna,
tetapi satu-satunya jalan selamat
bagi yang sadar bahwa dirinya sedang salah.
Sebab ketika Allah berkata “Cukup”,
tidak ada lagi jabatan yang bisa menolong,
tidak ada lagi dalil yang bisa melindungi,
dan tidak ada lagi waktu untuk kembali.
(Jasuti)
Komentar
Posting Komentar