Catatan Seorang Warga tentang Kepatuhan Semu

Oleh: Muhammad Sudirmin Nasution


Jeritansuarajatirakyat.blogspot.com l
Mandailing Natal (Sumut)-----
Saya tumbuh dan hidup di negeri yang sejak kecil mengajarkan satu pelajaran tak tertulis: berkata jujur itu mulia, tapi tidak selalu aman. Pelajaran ini tidak datang dari buku sekolah atau mimbar agama, melainkan dari praktik sehari-hari melihat bagaimana kekuasaan bekerja.


Di ruang-ruang birokrasi, saya menyaksikan bagaimana orang-orang cerdas memilih diam. Bukan karena mereka tidak tahu yang salah, tetapi karena mereka tahu risikonya. Kritik sering kali tidak dijawab dengan argumen, melainkan dengan stempel “tidak loyal”. Maka banyak yang belajar cepat: patuh di depan, berkeluh di belakang.


Kita sering menyebut ini kemunafikan. Tapi semakin lama saya berpikir, semakin jelas bahwa ini bukan sekadar soal moral individu. Ini soal sistem yang memberi hadiah pada kepatuhan semu dan hukuman pada kejujuran.


Elit politik dan birokrasi—sadar atau tidak—telah memelihara budaya ini. Loyalitas personal lebih dihargai daripada integritas. Puja-puji lebih cepat membuka jalan karier dibandingkan kerja jujur. Mereka yang pandai menyenangkan atasan naik perlahan tapi pasti; mereka yang kritis berjalan di tempat, atau disingkirkan dengan cara halus.


Saya melihat simbol moral dipertontonkan di mana-mana: agama, nasionalisme, pelayanan publik. Tapi di balik itu, praktik kekuasaan sering kali berlangsung transaksional. Kesalahan tidak dibenahi secara terbuka, melainkan dinegosiasikan. Masalah tidak diselesaikan, hanya dipindahkan.


Ironisnya, elit yang sama kerap mengeluhkan rendahnya kualitas moral masyarakat. Padahal, bukankah masyarakat hanya meniru apa yang mereka lihat? Jika kejujuran tidak dilindungi di puncak kekuasaan, mengapa kita berharap ia tumbuh subur di bawah?


Demokrasi memang berjalan secara prosedural. Pemilu digelar, jabatan berganti. Namun dalam praktik, banyak pola kolonial yang masih lestari: kekuasaan menuntut hormat, tapi enggan diawasi; meminta loyalitas, tapi alergi terhadap kritik.


Maka rasional jika masyarakat memilih aman. Mengangguk di forum resmi, bersuara di warung kopi. Memuji di podium, mengeluh di rumah. Ini bukan keberanian yang hilang, melainkan kalkulasi bertahan hidup.


Saya menolak anggapan bahwa bangsa ini secara kodrati munafik. Yang lebih tepat: bangsa ini terlalu lama hidup dalam sistem yang mengajarkan bahwa berkata jujur adalah risiko, bukan kebajikan.


Jika elit sungguh ingin mengubah keadaan, jangan mulai dengan ceramah moral kepada rakyat. Mulailah dengan memberi teladan: membuka ruang kritik tanpa ancaman, menghargai integritas lebih dari loyalitas, dan memberi sanksi nyata pada kepura-puraan yang selama ini justru dipelihara.


Tanpa itu, seruan tentang kejujuran dan antikemmunafikan hanya akan menjadi retorika baru—indah diucapkan, tapi hampa dalam praktik.

(Jasuti)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kapolres Madina: Tiga Provokator Pembakaran Polsek MBG Terindikasi Narkotika

Dugaan Kuat PETI Kotanopan Rusak Aset Negara, Aparat Diminta Tangkap Pawang yang Diduga Pemilik Alat Berat

Sertu Kholis Naik Pangkat Jadi Serka, Dedikasi Babinsa Lingga Bayu Diganjar Penghargaan