Empati sebagai Kepemimpinan: Jejak Jusuf Kalla dalam Merawat Kemanusiaan Pasca Bencana
Jakarta —
Empati dinilai sebagai fondasi utama kepemimpinan, baik formal maupun informal. Nilai itu kembali mengemuka menyusul langkah Mantan Wakil Presiden RI, H. Jusuf Kalla, yang turun langsung dan aktif mengoordinasikan bantuan kemanusiaan pasca bencana banjir dan longsor di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.
Sebagai Ketua Umum Palang Merah Indonesia (PMI) dan Ketua Dewan Masjid Indonesia (DMI), Jusuf Kalla dinilai memainkan peran strategis dalam menggerakkan solidaritas umat dan masyarakat lintas golongan.
Kehadirannya di tengah korban bencana bukan sekadar simbolik, melainkan bagian dari kerja kemanusiaan yang konsisten dijalani sejak lama.
“Empati masyarakat pasti meningkat ketika melihat pemimpin hadir langsung, bekerja, dan merasakan penderitaan rakyat,” ujar seorang akademisi yang pernah mengenal Jusuf Kalla semasa aktif di Universitas Hasanuddin (Unhas), Makassar, Kamis (24/12/2025).
Dalam konteks Aceh, nama Jusuf Kalla memiliki rekam jejak historis yang kuat. Ia dikenal sebagai salah satu tokoh kunci dalam Perdamaian Helsinki yang mengakhiri konflik panjang di Tanah Rencong. Karena itu, kehadirannya pasca bencana dinilai memiliki makna emosional dan sosial yang mendalam bagi masyarakat setempat.
Menurut pengamat sosial, langkah Jusuf Kalla mencerminkan konsep kepemimpinan berbasis kasih sayang (compassionate leadership). “Pemimpin yang mulia bukan hanya yang kuat secara politik, tetapi yang memiliki kepekaan batin dan kepedulian nyata terhadap sesama manusia,” ujarnya.
Dari sisi pribadi, Jusuf Kalla dikenal sebagai figur yang dermawan, sederhana, dan memiliki latar belakang keluarga yang menanamkan nilai kemanusiaan sejak dini. Didikan orang tua serta perjalanan hidup sebagai akademisi dan pengusaha disebut membentuk karakter kepemimpinannya yang pragmatis namun berempati.
Bantuan kemanusiaan yang disalurkan melalui PMI dan jejaring sosial keagamaan dinilai menjadi pelajaran penting bagi publik tentang arti kepemimpinan yang berorientasi pada nilai, bukan semata kekuasaan.
“Manusia menjadi berharga ketika mampu menghargai martabat dirinya dan orang lain, serta menempatkan nilai kemanusiaan sebagai jalan menuju ridho Tuhan,” kata tokoh masyarakat setempat.
Apa yang dilakukan Jusuf Kalla pasca bencana dinilai bukan sekadar respons darurat, melainkan teladan kepemimpinan yang menempatkan kasih sayang sebagai kekuatan moral. Di tengah krisis, empati terbukti menjadi bahasa universal yang mampu menyatukan dan menggerakkan harapan rakyat.
By. H. SYAHRIR NASUTION. SE. MM. Glr SUTAN KUMALA BULAN ( MANTAN AKADEMISI ) dan PENGAMAT SOSIAL KEBANGSAAN.
(Jasuti)
Komentar
Posting Komentar